Masa kanak-kanaknya dijalani dengan bekerja keras membantu Ayahnya di kebun. Sebelum mengenyam sekolah Ia sudah harus mencangkul, bercocok-tanam & menuai. Juga harus mengambil air untuk mandi & minum keluarga, serta pekerjaan sebagai nelayan sering dilakukannya. Singkatnya, tak ada waktu bermain bagi si kecil Lajaha.
Suatu pagi, Ayahnya memutuskan untuk melaut. Sementara Lajaha ditugaskan melanjutkan tugas bercocok-tanam di kebun. Dengan hanya berbekal sekantong air putih untuk mengobati haus, seorang diri Lajaha berjalan ke arah kebunnya yang agak jauh mendekati hutan & sedikit menjorok mendekati tebing pantai (saat itu Lajaha berumur 7 tahun). Sesampainya di kebun, Lajaha lalu mulai mencangkul & menanam bibit ke dalam lubang yang dibuatnya, hingga memasuki tengah hari dirasakannya lapar luar biasa. Sehari-hari Lajaha kecil sudah terbiasa dengan rasa lapar, tapi entah hari itu dirasanya lapar lebih dari yang bisa ditanggungkannya. Lajaha lalu duduk beristirahat.
Tiba-tiba sesosok tubuh tinggi besar datang menghampirinya & berbicara dengan nada yang sangat berwibawa sampai-sampai Lajaha kecil kehilangan suara untuk menjawabnya. "Wahai Anandaku, jangan takut", kata sosok itu bergema & berwibawa. "Nanti ketika Ananda masuk Sekolah Dasar, ganti namamu menjadi Welson", pintanya. Lajaha hanya bisa mengangguk saat itu. Katanya lagi, "Anandaku, tuntutlah pendidikan mulai dari SD, SMP hingga SLTA. Setelah Ananda tamat di semua jenjang pendidikan itu, pergilah ke Makassar. Setiba di sana, masuklah di salah satu Perguruan Tinggi yang ada di Makassar." Sambil menunjuk ke arah langit, orang itu kembali berkata,"Insya ALLAH, bagimu wahai Ananda, akan datang pertolongan dari Yang Maha Kuasa, Penguasa Alam Jagad Raya ini." Selepas mengucapkan kata terakhirnya sosok itupun melangkah pergi. Dalam sekali melangkah sudah sampai di seberang lautan lalu menghilang dari tatapan mata Lajaha.
Sejak saat itu, Lajaha mampu melihat dalam kegelapan malam bagaikan siang hari. Malam hari sepulang dari Langgar, Lajaha sering berlari-lari menembus pekatnya malam tanpa terantuk batu. Bahkan suatu kali, Ibunya menjatuhkan jarum ketika sedang menjahit sarung Lajaha yang sobek. Lajaha lalu turun dari rumah panggung dan mengambil jarum tersebut tanpa menggunakan penerangan apapun. Hal itu mengherankan Ibu & keluarganya, juga masyarakat sekitarnya. Ketika ditanyai mengenai hal itu, jawaban Lajaha kecil sangat luar biasa. Katanya bahkan sekarang ini Lajaha mampu melihat & bercakap-cakap dengan orang-orang yang telah lama meninggal. Termasuk kepada Kakeknya yang meninggal puluhan tahun lalu, Ia pernah berdialog.
Saat berumur 9 tahun, Lajaha didaftarkan di Sekolah Dasar Burangasih. Atas permintaan Lajaha, namanya terdaftar sebagai Welson Lajaha. Sepulang sekolah tetap bekerja seperti biasanya, membantu Ayahnya menyiangi tanaman & menternakkan kambing.
Tidak lama berselang Ibunya jatuh sakit & meninggal. Ayah & dua saudaranya bertangisan sambil memeluk Ibunya yang membujur kaku. Lajaha sendiri tak menampakkan raut muka sedih. Dilihatnya Ruh Ibunya bangkit & berdiri tegak, layaknya manusia yang masih hidup. Lajaha menyaksikan Ibunya berjalan, duduk & mondar mandir di hadapannya menemui orang-orang bertandang ke rumahnya.
Setelah jasad Ibunya dimakamkan & tidak melihat lagi kehadiran Ibunya di rumah, barulah Lajaha sadar Ibunya telah pergi untuk selamanya. Duka & lara berpadu menjadi kesedihan luar biasa. Kenangan pada Bundanya yang sangat menyayanginya, yang telah tampil begitu tegar di depan anak-anaknya dalam menjalani hidup yang serba terbatas. Ia tak akan pernah lagi menyaksikan Bundanya memasak di dapur, di mana Lajaha biasa menunggui nasi matang, sampai kadang tertidur dengan perut lapar. Teringat Lajaha kata-kata terakhir Ibunya ketika Ia berusaha menemui & membujuk Ibunya pulang ke rumah,"Anakku Lajaha, Saya tidak seperti manusia biasa lagi." membuatnya semakin yakin bahwa Ibunya telah pergi selamanya. "Perih & pilu dalam hatimu, tapi Engkau selalu tegar di depan anak-anakmu. Sakit yang Engkau derita, Engkau sembunyikan kepada Kami. Do'a tulusku padamu wahai Bundaku dan maafkan anakmu Lajaha", kata Lajaha dalam hati penuh duka sambil merunduk berjalan pulang dengan berderai air mata duka lara.
Tahun demi tahun berganti Lajaha melakukan pekerjaan berat yang belum pantas untuk anak sesusia dirinya sambil tetap sekolah dengan hanya memiliki satu pencil & satu buku selama masa SD hingga akhirnya Ia telah lulus & bersiap melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP.
Syukur bagi Lajaha, Ia diterima di SMP Negeri Wasuemba Sampolawa. Hanya saja jaraknya 17 kilometer dari rumah, atau dengan kata lain 6 jam perjalanan berjalan kaki. Dengan tabah, Lajaha melakukan rutinitas barunya, berangkat ke sekolah pada jam 1 tengah malam & tiba di sekolah jam 7 pagi. Begitu pula sebaliknya pada saat pulang sekolah ditempuhnya 6 jam berjalan kaki tiba di rumah pada pukul 6 magrib. Praktis, waktu istirahatnya hanya 6 jam.
Tahunpun berganti, Lajaha telah duduk di kelas 2 SMP. Sebuah keluarga, teman Ayahnya yang bertempat-tinggal dekat sekolah, menawarinya tinggal di rumahnya. Lajaha lalu pindah ke rumah tersebut. Dengan senang hati Ia membantu pekerjaan rumah tangga keluarga itu. Bangun jam 3 dini hari, Lajaha mulai mengepel, cuci piring, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menimba air di sumur lalu dimasukkan ke dalam bak buat mandi sekeluarga, hingga mencuci popok bayi. Hal itupun tidak membuatnya terlambat ke sekolah.
Sepulang sekolah, Lajaha mencari uang dengan mendorong gerobak yang isinya pasir, tanah, batu merah & bahan bangunan lainnya. Suatu hari ketika sedang mendorong gerobak yang sarat muatannya, tiba-tiba ban gerobak tersebut terperosok ke got samping jalan. Saat berusaha menariknya keluar dari got, tiba-tiba dengan ayunan cepat gagang gerobak itu menyabet perut Lajaha hingga kulit perutnya terbelah mengeluarkan ususnya yang menggelembung besar.
Lajaha hanya bisa merintih & terbaring sendirian di pinggir jalan, ketika itulah muncul seorang bocah kecil yang datang & menolongnya. Didorongnya usus Lajaha kembali ke perutnya dengan satu tekanan & dalam sedetik Lajaha telah sembuh. Walaupun masih ada bekas luka tersebut. Melihat Lajaha sudah sembuh, bocah itu lalu menghilang.
Dua tahun menjadi buruh penarik gerobak sambil bersekolah hingga tamat SMP, lalu Lajaha melanjutkan pendidikannya ke MAN (Madrasah Aliah Negeri) di kota Baubau, Ibukota Buton.
Lajaha harus pindah lagi ke kota tersebut, dengan mengontrak gubuk reok berpatungan dengan teman lain yang juga perantau. Untuk memenuhi kebutuhan sekolah & sandang pangan, mereka bekerja apa saja. Mulai dari pembantu rumah tangga, tukang batu, buruh jalanan, hingga kuli angkut di pelabuhan Buton, semua mereka jalani.
Tahun demi tahun berganti hingga Ia akhirnya menamatkan sekolahnya. Kini tibalah saatnya hijrah lagi ke kota lain yaitu kota Makassar. Dengan modal nekat & sedikit uang tabungannya selama ini, Lajaha berangkat dengan menumpang kapal laut menuju Makassar.
Di Makassar, Ia mendaftar di Universitas Muslim Indonesia (UMI) Fakultas Ushuluddin, jurusan Dakwah. Beruntung Ia mendapatkan beasiswa gratis di Fakultas tersebut. Hanya ada sedikit masalah, yaitu tentang nama Welson Lajaha sempat dipertanyakan. Ia dikira seorang non-muslim yang ingin belajar lebih dalam tentang Islam. Akhirnya setelah menelusuri data tentang Lajaha, Ia diterima dengan syarat harus menambah nama depannya menjadi Yasin Welson Lajaha.
Awal kuliah, Lajaha yang kemudian akrab dipanggil Yasin, tinggal di Asrama Buton. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, Yasin kemudian kembali bekerja sebagai tukang batu, buruh & tukang sapu. Jika dalam sehari tidak mendapat kerja, maka Yasin berpuasa. Hingga pernah berpuasa selama 40 hari.
Pernah pula Ia menjadi menjadi buruh bangunan dengan gaji Rp2,000.- perhari. Dan masih sempat pula Ia menyisihkan Rp1,000.- untuk pembangunan Masjid di kampungnya. Semua penderitaan yang dijalaninya itu, Yasin tak pernah mengeluh.
Suatu sore, sepulang kuliah, suhu tubuh Yasin tiba-tiba menghangat. Terbaring di tempat kosnya, benjolan di leher dekat wajahnya yang selama ini tidak dipedulikannya menimbulkan rasa panas & berdenyut-denyut menyakitkan. Ketika diperiksakan ke Dokter, ternyata hasil visum menyatakan benjolan itu adalah jenis kanker ganas.
Dua bulan setelah pemeriksaan Dokter tersebut, benjolan itu semakin parah. Mulai bernanah & membesar sehingga hampir menutupi seluruh wajah.
Sendirian terbaring di kamar kos, Ia teringat Dokter mengatakan bahwa kankernya itu adalah kanker ganas stadium 4 & tidak lagi ada obat untuk penyakitnya itu. Kesedihan melanda hatinya yang pilu & teringat kembali Bundanya yang telah lama tiada. Lara & duka datang menyatu, derai tangis di tengah malam menahan sakit tiada tara.
Tiba-tiba muncul seorang berjubah putih & berjanggut panjang, menghampiri & mengusap wajahnya. Seketika rasa sakit menghilang, & sepanjang malam tersebut Yasin menghabiskan waktunya berdialog dengannya. Hingga kemudian sosok berjubah putih itu pergi dengan meninggalkan pesan bahwa Ia akan datang lagi setelah sakitnya sembuh & mengering.
Esoknya sakit yang dideritanya perlahan sembuh & mengering. Kembali kuliah seperti sebelumnya, lalu kemudian dari Asarama Buton pindah & tinggal di Mesjid. Yasin kemudian jadi Guru Ngaji, Tukang Adzan & Tukang bersih Masjid.
- Pemimpin di pusaran kalbu
Tahunan tinggal di Masjid, hingga suatu Ramadhan selepas Sholat Taraweh, Lajaha tertidur. Tengah malam Ia dibangunkan oleh Sosok Berjubah Putih. Lalu Lajaha mengikuti petunjuk layaknya seorang Santri belajar pada Kiyai-nya.
Mulai saat itu, Yasin mendapat keajaiban. Mampu membaca nama & menyebut Nama NUR (Jati diri, Ruh, atau Orang di Jawa menyebutnya Saudara Kembar) bagi setiap Insan di dunia, tanpa membedakan Agama, Suku (tribe/race) & Etnis, semuanya terbaca.
Sejak itu Yasin berdakwah. Setiap teman, sahabat, karib & setiap insan yang meminta nama Nur-nya, Ia sebutkan/tuliskan tanpa meminta bayaran.
Mulailah perjalanan Yasin, Ia dipanggil dijemput diundang mulai dari teman kuliah, rakyat setempat, pejabat, kaya miskin, tua muda, pemabuk/peminum & kaum ulama, pengusaha dll, dengan latar belakang agama yang berbeda-beda mulai dari Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu juga Kong-Fu-Cu dan berbagai aliran keyakinan. Bahkan pernah diundang oleh penganut aliran Shia, Sunni, Wahhabi, yang terkenal masing-masing keras & tegas tertutup pada penganut alirannya masing-masing. Selalu berakhir dengan keharuan mendalam saat melepas Yasin.
Ia kemudian diminta kembali oleh Almamaternya UMI, untuk menjadi Dosen di Fakultas Usuluddin. Selama beberapa tahun dijalaninya, kemudian kembali melepas diri menjadi Uztads.
Yasin kemudian mengontrak rumah petak dua lantai berlantai tanah. Siang malam, banyak yang berkunjung ke rumahnya untuk konsultasi. Yang datang juga sangat bervariasi mulai dari kalangan tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat biasa, ulama-awam. Ada yang konsultasi mengenai masalah rumah tangga, pekerjaan, jabatan, ada yang konsultasi karena sakit atau keluarga yang sakit, bahkan ada juga yang berkonsultasi karena ingin mengenal Tuhan lebih dekat atau "ma'rifatullah". Hampir tiada waktu tersisa, hingga rumahnya tidak pernah terkunci lagi, dipenuhi orang yang duduk berjejer dari lantai atas sampai bawah.
Ia juga diundang berdoa, mulai dari Mesjid, Rumah Sakit atau rumah pribadi yang melimpah oleh para jamaahnya yang sudah menunggu. Sehingga praktis jam tidurnya hanya sekitar 3-4 jam sehari semalam. Ia terus dikelilingi oleh orang-orang yang merindukan untuk mendengarkan kalimat-kalimatnya. Yasin layaknya Pemimpin di pusaran kalbu. Ia selalu dicari & dirindukan oleh semua orang yang telah mengenalnya.
- Mengantar Zaman di batas Nusantara
Dari Makassar, nama Yasin mulai terdengar di Jakarta. Pejabat, Dermawan, Pengusaha, di Jakarta memanggilnya untuk bersilaturrahim. Ilmu jati diri yang dimilikinya menarik untuk didialogkan, dikomunikasikan, diartikulasikan karena menyangkut ketauhidan, ketuhanan, kekhalifahan, hingga tak terhitung lagi berapa kali Yasin ke Jakarta bolak balik naik pesawat.
Suatu waktu bertemu jamaah dermawan yang mengajaknya ikut naik haji ke tanah suci. Yasin pun berangkat menunaikan ibadah haji tanpa berbekal uang, tidak seperti jamaah haji pada umumnya. Sujud syukur dengan bersimbah air mata di depan Kabbah mengenang Bundanya, Ayahnya, Kakak serta saudara-saudaranya yang lain.
Sepulang dari Tanah Suci, Ia kembali diajak oleh Jamaah Dermawan berangkat ke Singapura. Di sana Ia larut menikmati negeri singa itu dengan segala kemajuannya. Begitu asiknya hingga lupa bahwa Ia masih ngontrak & tinggal di gang sempit di Jl. Veteran Selatan Makassar.
Pulang dari luar negeri, Ia kembali berdakwah & ceramah seperti sediakala. Ia tetap Yasin seperti dulu yang ramah, lembut, akrab & bersahabat kepada seluruh teman & jamaahnya. Hanya saja pakaian & atribut badan (jam tangan dll) sedikit ber-merk. Ketika teman coba menanyakan, Ia menjawab sederhana, "Ini pemberian, bukan Aku yang beli."
Orang tua angkatnya yang berada di Jakarta sering memberikan sejumlah materi, Ia juga yang mendorong Yasin untuk segera menikah. Akhirnya Yasin menikahi seorang gadis, Ia adalah seorang bunga cantik dari desanya Burangasi.
Setelah menikah, Yasin kembali bertemu jamaah dermawan dari Bali yang membelikan rumah di kompleks BTP Makassar. Sejak itu Yasin beserta keluarganya menetap di rumah itu. Sekarang ini Yasin & istrinya telah dikaruniai anak 6 orang, 3 putra & 3 putri.
Demikianlah Yasin yang dulunya menderita dalam kemiskinan, sekarang telah terbang ke sana ke mari, bagaikan burung cemara yang dilihatnya di puncak gunung desanya dulu.
Ia telah menyinggahi Nusa di sejumlah pulau Nusantara, seperti Kalimantan, Papua, Sumatera, hingga Nusatenggara. Sejumlah daerah yang didatanginya, isi dakwahnya adalah
memberikan pemahaman tentang jati diri manusia seutuhnya.
Bahkan negeri jiran Malaysia, sering dikunjunginya. Di sana jamaah terus menunggu ungkapan-ungkapan lugas Yasin tentang berbagai segi kehidupan, terutama menyangkut spiritual ketuhanan, jati diri & keimanan kepada sang Khalik.
Lain waktu, keberadaanya di Jakarta adalah untuk mengikuti berbagai kegiatan, seperti Upacara 17 Agustus di istana Negara, menghadiri sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) dll. Di acara itu Ia berfoto bersama sejumlah pejabat & orang terkenal di republik ini, termasuk Amin Rais, Akbar Tanjung, Yusril Ihza Mahendra. Bahkan Ia bertemu & foto bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di sebuah acara.
Dari Cendana di Jakarta, ketika mantan Presiden Soeharto masih hidup, Yasin pernah bertandang ke sana. Ia diterima oleh putri sulung Soeharto, Siti Hardiyanti Rukmana atau biasa disapa Mbak Tutut. Yasin berdialog dengan Soeharto tentang berbagai hal, termasuk masalah-masalah kebangsaan, kenegaraan & tanah air Indonesia. Sebelum pulang disempatkannya foto bareng bersama Soeharto & Mbak Tutut.
Demikianlah Yasin, perjalanannya keliling berdakwah di persada Ibu Pertiwi telah membawa hikmah besar baginya. Bocah kampung Burangasi yang dulunya hitam kelam itu, kini telah melakukan perjalanan menjelajahi zaman di batas-batas Nusantara.
******* ******* *******